1512510262
Abidzar Divari Putra
KI - 40
Perkembangan
teknologi informasi yang sangat dramatis dalam beberapa tahun terakhir telah
membawa dampak transformational pada berbagai aspek kehidupan, termasuk di
dalamnya dunia bisnis. Setelah berlalunya era “total quality” dan
“reengineering”, kini saatnya “era elektronik” yang ditandai dengan menjamurnya
istilah-istilah e-business, e-university, e-government, e-economy,
e-emtertainment, dan masih banyak lagi istilah sejenis.
Salah satu
konsep yang dinilai merupakan paradigma bisnis baru adalah e-business atau
dikenal pula dengan istilah e-commerce sebagai bidang kajian yang relatif masih
baru dan akan terus berkembang, e-business berdampak besar pada praktek bisnis,
setidaknya dalam hal penyempurnaan direct marketing, transformasi organisasi,
dan redefinisi organisasi.
Model bisnis
ini menekankan pertukaran informasi dan transaksi bisnis yang bersifat
peperless, melalui Elektronik Data Interchange (EDI), E-mail, dan teknologi
lainnya yang juga berbasis jaringan. Popularitas e-business dipenghujung abad
20 dan di awal milenium baru ini ditunjang oleh tiga faktor pemicu utama, yaitu
1)
faktor pasar
dan ekonomi, diantara kompetisi yang semakin intensif, perekonomian global,
kesepakatan dagang regional, dan kekuasaan konsumen yang semakin bertambah
besar
2)
faktor
sosial dan lingkungan, seperti perubahan karakteristik angkatan kerja,
deregulasi pemerintah, kesadaran dan tuntutan akan praktis etis, kesadaran akan
tanggung jawab sosial perusahaan, dan perubahan politik
3)
faktor
teknologi, meliputi singkatnya usia siklus hidup produk dan teknologi.
Definisi E-Commerce ( Electronic Commerce) : E-commerce merupakan suatu cara berbelanja atau berdagang secara online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet dimana terdapat website yang dapat menyediakan layanan get and deliver
commerce
akan merubah semua kegiatan marketing dan juga sekaligus memangkas biayabiaya
operasional untuk kegiatan trading (perdagangan)
Perkembangan
teknologi (tele)komunikasi dan komputer menyebabkan terjadinya perubahan kultur
kita sehari-hari. Dalam era yang disebut “information age” ini, media
elektronik menjadi salah satu media andalan untuk melakukan komunikasi dan
bisnis. E commerce merupakan extensiondari commerce dengan mengeksploitasi
media elektronik. Meskipun penggunaan media elektronik ini belum dimengerti,
akan tetapi desakan bisnis menyebabkan para pelaku bisnis mau tidak mau harus
menggunakan media elektronik ini.
Pendapat
yang sangat berlebihan tentang bisnis ‘dotcom’ atau bisnis on-line seolah-olah
mampu menggantikan bisnis tradisionalnya (off-line). Kita dapat melakukan order
dengen cepat diinternet – dalam orde menit – tetapi proses pengiriman barang
justru memakan waktu dan koordinasi yang lebih rumit, bisa memakan waktu
mingguan, menurut Softbank;s Rieschel, Internet hanya menyelesaikan 10% dari
proses transaksi, sementara 90 % lainnya adalah biaya untuk persiapan
infrastruktur back-end, termasuk logistic. Reintiventing dunia bisnis bukan
berarti menggantikan system yang ada, tapi justru komplemen dan ekstensi dari
system infratruktur perdagangan dan produksi yang ada sebelumnya.
Dalam mengimplementasikan e-commerce tersedia suatu integrasi rantai nilai dari infrastrukturnya, yang terdiri dari tiga lapis. Perama, Insfrastruktur system distribusi (flow of good) kedua, Insfrastruktur pembayaran (flow of money) Dan Ketiga, Infrastruktur system informasi (flow of information). Dalam hal kesiapan infrastruktur e-commerce, kami percaya bahwa logistics follow trade, bahwa semua transaksi akan diikuti oleh perpindahan barang dari sisi penjual kepada pembeli. Agar dapat terintegrasinya system rantai suplai dari supplier, ke pabrik, ke gudang, distribusi, jasa transportasi, hingga ke customer maka diperlukan integrasi enterprise system untuk menciptakan supply chain visibility. Ada tiga factor yang patur dicermati oleh kita jika ingin membangun toko e-commerce yaitu : Variability, Visibility, dan Velocity (Majalah Teknologi, 2001).
Dalam mengimplementasikan e-commerce tersedia suatu integrasi rantai nilai dari infrastrukturnya, yang terdiri dari tiga lapis. Perama, Insfrastruktur system distribusi (flow of good) kedua, Insfrastruktur pembayaran (flow of money) Dan Ketiga, Infrastruktur system informasi (flow of information). Dalam hal kesiapan infrastruktur e-commerce, kami percaya bahwa logistics follow trade, bahwa semua transaksi akan diikuti oleh perpindahan barang dari sisi penjual kepada pembeli. Agar dapat terintegrasinya system rantai suplai dari supplier, ke pabrik, ke gudang, distribusi, jasa transportasi, hingga ke customer maka diperlukan integrasi enterprise system untuk menciptakan supply chain visibility. Ada tiga factor yang patur dicermati oleh kita jika ingin membangun toko e-commerce yaitu : Variability, Visibility, dan Velocity (Majalah Teknologi, 2001).
Yang menjadi
pertayaan bahwa bagaimana kita melakukan penyelidikan sebelum memutuskan untuk
terjun ke market on-line ini, ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan
diantaranya ;
Process conducting dalam penyelidikan :
Process conducting dalam penyelidikan :
1)
mendefinisikan
targer pasar,
2)
menidentifikasikan
kelompok untuk dijadikan pembelajaran.
3)
indentity
topk untuk discusi.
Dalam tahap
penunjungnya maka dapat diselidiki :
1)
identity
letak demografi website di tempat tertentu,
2)
memutuskan
focus editorialnya,
3)
memutuskan
isi dari contentnya,
4)
memutuskan
pelayanan yang dibuat untuk berbagai type pengunjung (Turban M, 2001)
Ternyata
tidak mudah mengimplementasikan eCommerce dikarenakan banyaknya faktor yang
terkait dan teknologi yang harus dikuasai. Tulisan (report) ini diharapkan
dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang teknologi apa saja yang terkait,
standar-standar yang digunakan, dan faktor-faktor yang harus diselesaikan.
Jenis
eCommerce eCommerce dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu Business to Business
(B2B) dan Business to Consumer (B2C, retail). Kedua jenis eCommerce ini
memiliki karakteristikyang berbeda. Business to Business eCommerce memiliki
karakteristik
Trading
partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan (relationship) yang
cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan partner tersebut. Dikarenakan
sudah mengenal lawan komunikasi, maka jenis informasi yang dikirimkan dapat
disusun sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan (trust).
Pertukaran
data (data exchange) berlangsung berulang-ulang danÿ secara
berkala, misalnya setiap hari, dengan format data yang sudah disepakati
bersama. Dengan kata lain, servis yang digunakan sudah tertentu. Hal ini
memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang menggunakan standar yang sama.
Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus menunggu parternya.
Model yang umum digunakan adalah peer-topeer, dimana processing intelligence dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.
Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus menunggu parternya.
Model yang umum digunakan adalah peer-topeer, dimana processing intelligence dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.
A.
Business to
Consumer eCommerce
Memiliki
karakteristik sebagai berikut: Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan
ke umum.
Servis yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai. Sebagai contoh, karena sistem Web sudah umum digunakan maka servis diberikan dengan menggunakan basis Web.
Servis yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai. Sebagai contoh, karena sistem Web sudah umum digunakan maka servis diberikan dengan menggunakan basis Web.
Servis
diberikan berdasarkan permohonan (on demand). Konsumer melakuka inisiatif dan
produser harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan.
Pendekatan
client/server sering digunakan dimana diambil asumsi client (consumer)
menggunakan sistem yang minimal (berbasis Web) dan processing (business
procedure) diletakkan di sisi server.
Menurut sebuah report dari E&Y; Consulting, perkembangan kedua jenis eCommerceini dapat dilihat pada tabel berikut. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa perkembangan Business to Business lebih pesat daripada Business to Consumer. Itulah sebabnya banyak orang mulai bergerak di bidang Business-to-business.
Menurut sebuah report dari E&Y; Consulting, perkembangan kedua jenis eCommerceini dapat dilihat pada tabel berikut. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa perkembangan Business to Business lebih pesat daripada Business to Consumer. Itulah sebabnya banyak orang mulai bergerak di bidang Business-to-business.
Meskipun demikian, Business-to-Consumer masih memiliki
pasar yang besar yang tidak dapat dibiarkan begitu saja. Tingginya PC
penetration (teledensity) menunjukkan indikasi bahwa banyak orang yang berminat
untuk melakukan transaksi bisnis dari rumah. Negara yang memiliki indikator PC
peneaion yang tinggi mungkin dapat dianggap sebagai negara yang lebih siap
untuk melakukan eCommerce.
Business to Business eCommerce umumnya menggunakan
mekanisme Electronic Data Interchange (EDI). Sayangnya banyak standar EDI yang
digunakan sehingga menyulitkan interkomunikasi antar pelaku bisnis. Standar
yang ada saat ini antara lain: EDIFACT, ANSI X.12, SPEC 2000, CARGO-IMP,
TRADACOMS, IEF, GENCOD, EANCOM, ODETTE, CII. Selain standar yang disebutkan di
atas, masih ada formatformat lain yang sifatnya proprietary. Jika anda memiliki
beberapa partner bisnis yang sudah menggunakan standar yang berbeda, maka anda
harus memiliki sistem untuk melakukan konversi dari satu format ke format lain.
Saat ini sudah tersedia produk yang dapat melakukan konversi seperti ini.
Pendekatan lain yang sekarang cukup populer dalam
standarisasi pengiriman data adalah dengan menggunakan Extensible Markup
Language (XML) yang dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C). XML
menyimpan struktur dan jenis elemen data di dalam dokumennya dalam bentuk tags
seperti HTML tags sehingga sangat efektif digunakan untuk sistem yang berbeda.
Kelompok yang mengambil jalan ini antara lain adalah XML/EDI group
(www.xmledi.net).
Pada mulanya
EDI menggunakan jaringan tersendiri yang sering disebut VAN (ValueAdded
Network). Populernya jaringan komputer Internet memacu inisiatif EDI melalui
jaringan Internet, atau dikenal dengan nama EDI overInternet.
Topik yang juga mungkin termasuk di dalam
business-to-business eCommerce adalah
Electronic/Internet procurement dan Enterprise
Resource Planning (ERP). Hal ini adalah implementasi penggunaan teknologi
informasi pada perusahaan dan pada manufakturing. Sebagai contoh, perusahaan
Cisco maju pesat dikarenakan menggunakan teknologi informasi sehingga dapat
menjalankan just-in-time manufacturing untuk produksi produknya.
Business to
Consumer eCommerce memiliki permasalahan yang berbeda. Mekanisme untuk
mendekati consumer pada saat ini menggunakan bermacam-macam pendekatan seperti
misalnya dengan menggunakan “electronic shopping mall” atau menggunakan konsep
“portal”.
Electronic
shopping mall menggunakan web sites untuk menjajakan produk dan servis. Para
penjual produk dan servis membuat sebuah storefront yang menyediakan catalog
produk dan servis yang diberikannya. Calon pembeli dapat melihat-lihat produk
dan servis yang tersedia seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari dengan
melakukan window shopping. Bedanya, (calon) pembeli dapat melakukan shopping
ini kapan saja dan darimana saja dia berada tanpa dibatasi oleh jam buka took.
Konsep
portal agak sedikit berbeda dengan electronic shopping mall, dimana pengelola
portal menyediakan semua servis di portalnya (yang biasanya berbasis web).
Sebagai contoh, portal menyediakan eMail gratis yang berbasis Web bagi para
pelanggannya sehingga diharapkan sang pelanggan selalu kembali ke portal
tersebut.
B.
Perspektif
dan Perkembangan E-Commerce
Istilah
e-business berkaitan erat dengan e-commerce. Bagi sebagian kalangan, istilah
e-commerce diartikan secara sempit sebagai transaksi jual beli produk, jasa dan
informasi antar mitra bisnis lewat jaringan komputer, termasuk internet.
Sedangkan e-business mengacu pada lingkup yang lebih luas dan mencakup pula
layanan pelanggan, kolaborasi dengan mitra bisnis, dan transaksi elektronik
internal dalam sebuah organisasi.
Meskipun
demikian, istilah e-commerce sebenarnya dapat didefinisikan berdasar 5
perspektif (Phan, 1998; ); (1) on-linepurchasing perspective; (2) digital
communications perspective; (3) service perspective; (4) business process
perspective; dan (5) market-of-one perspective. Dengan demikian, pada
hakikatnya dalam lingkup yang luas e-commerce bisa dikatakan ekuivalen atau
sama dengan e-business(Turban, et al, 2000)
Perspektif
Mengenai E-Commerce
PERSPEKTIF
DEFINISI E-COMMERCE FOKUS
1.
On-line
Purchasing Perspective Sistem yang memungkinkan pembelian dan penjualan produk
dan informasi melalui internet Transaksi online
2.
Digital
Communication Perspective Sistem yang memungkinkan pengiriman informasi digital
produk, jasa dan pembayaran online Komunikasi secara elektronis
3.
Service
Perspective Sistem yang memungkinkan upaya menekan biaya, menyempurnakan
kualitas produk dan informasi instan terkini, dan meningkatkan kecepatan
penyampaian jasa. Efisiensi dan layanan pelanggan
4.
Business
Process Perspective Sistem yang memungkinkan otomatisasi transaksi bisnis dan
aliran kerja Otomatisasi proses bisnis
5.
Market-of-one
Perspective Sistem yang memungkinkan proses “Customization” produk dan jasa
untuk diadaptasikan pada kebutuhan dan keinginan setiap setiap pelangga secara
efisien Proses customization
Sumber :
diolah dari Phan (1998)
C.
Peluang
dan Tantangan E-Commerce
Perkembangan
internet berdampak pada perubahan cara organisasi merancang, memproses,
memproduksi, memasarkan, dan menyampaikan produk. Lingkup persaingan yang
semakin luas juga menuntut integrasi dan koordinasi anatara departemen sistem
informasi, pemasaran, layanan pelanggan, dan departemen-departemen lainnya
dalam organisasi. Beraneka raga peluang pemanfaatan internet yang bisa
diekploitasi meliputi:
· Sumber baru
untuk informasi pasar
· Individualized
marketing
· Cara baru
menjalin relasi online dengan pelanggan dan membangun citra merk;
· Peluang baru
bagi distribusi produk dan komunikasi pemasaran;
Proses
penyampaian produk secara digital via internet diperkirakan akan semakin marak
dalam berbagai sektor bisnis, terutama untuk program perangkat lunak, surat
kabar, tiket pesawat, perbankan, asuransi, pendidikan, dan lain-lain
Sekalipun
ada banyak sekali daya pikat e-business (terutama yang berbasis internet),
masih ada sejumlah tantangan atau keterbatasan yang harus diatasi. Sebuah
survey yang dilakukan oleh majalah internetweek pada tahun 1998 mengungkap
sejumlah faktor non teknis yang menghambat perkembangan e-business
D.
Dampak
e-Commerce terhadap pratik bisnis
Dalam kategori
pertama, e-commerce berdampak pada akselerasi pertumbuhan direct marketing yang
secara tradisional berbasis mail order (katalog) dan telemarketing. Kemunculan
e-commerce memberikan beberapa dampak positif bagi aktivitas pemasaran,
diantaranya :
Memudahkan promosi produk dan jasa secara interaktif dan real time melalui saluran komunikasi langsung via internet
Memudahkan promosi produk dan jasa secara interaktif dan real time melalui saluran komunikasi langsung via internet
Menciptakan
saluran distribusi baru yang bisa menjangkau lebih banyak pelanggan di hampir
semua belahan dunia
Memberikan
penghematan signifikan dalam hal biaya pengirima informasi dan produk
terdigitalisasi (contoh :perangkat lunak dan musik)
Menekan
waktu siklus dan tugas-tugas administratif (terutama untuk pemasaran
internasional) mulai dari pemesanan hingga pengiriman produk
Layanan
pelanggan yang lebih responsif dan memuaskan, karena pelanggan bisa
mendapatkan
informasi lebih rinci dan merespon cepat secara online
Memfasilitasi
mass customization yang telah diterapkan padaØ sejumlah
produk seperti kosmetik, mobil, rumah, komputer, kartu ucapan, dan berbagai
macam produk lainnya.
Memudahkan aplikasi one-to-one atau direct advertising yang lebih efektif dibandingkan mass advertising
Menghemat biaya dan waktu dalam menangani pemesanan, karena sistemØ pemesanan elektronik memungkinkan pemrosesan yang lebih cepat dan akurat
Memudahkan aplikasi one-to-one atau direct advertising yang lebih efektif dibandingkan mass advertising
Menghemat biaya dan waktu dalam menangani pemesanan, karena sistemØ pemesanan elektronik memungkinkan pemrosesan yang lebih cepat dan akurat
Menghadirkan
pasar maya/virtual (markespace) sebagai komplemen pasa tradisional
(marketplace)
Dalam hal transformasi organisasi, e-commerce mengubah karakterisik pekerjaan, karir, dan kompensasi. E-commerce menuntut kompetensi, komitmen, kreativitas, dan fleksibilitas karyawan dalam beradaptasi dengan setiap perubahan lingkungan yang ramping, bercirikan pemberdayaan dan desentralisasi wewenang, beranggotakan knowledge based workers, mampu beradaptasi secara cepat dengan teknologi baru dan perubahan lingkungan (learning organisation), mampu dan berani bereksperimen dengan produk, jasa maupun proses baru, dan mampu mengelola perubahan secara strategik.
Dalam hal transformasi organisasi, e-commerce mengubah karakterisik pekerjaan, karir, dan kompensasi. E-commerce menuntut kompetensi, komitmen, kreativitas, dan fleksibilitas karyawan dalam beradaptasi dengan setiap perubahan lingkungan yang ramping, bercirikan pemberdayaan dan desentralisasi wewenang, beranggotakan knowledge based workers, mampu beradaptasi secara cepat dengan teknologi baru dan perubahan lingkungan (learning organisation), mampu dan berani bereksperimen dengan produk, jasa maupun proses baru, dan mampu mengelola perubahan secara strategik.
Sedangkan
dalam hal redefinisi organisasi, e-commerce memunculkan model bisnis baru yang
berbasis jasa online di markespace. Hal ini bisa berdampak pada redefinisi misi
organisasi dan cara organisasi menjalankan bisnisnya. Perubahan ini anatar lain
meliputi peralihan dari sistem produksi massal menjadi pemanufakturan just in
time (JIT) yang lebih customized, integrasi berbagai sistem fungsional (seperti
produksi, keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia). Hal ini difasilitasi
dengan sistem ERP (Enterprise Resource Planning) berbasis internet berupa
perangkat lunak khusus seperti SAP R/3, microsoft enterprise, DCOM, dan
lain-lain.
E.
Manfaat
E-businees bagi Organisasi, Konsumen, dan Masyarakat luas
1.
Bagi
Organisasi
Memperluas
pasar hingga mencakup pasar nasional dan pasar global, sehingga perusahaan bisa
menjangkau lebih banyak pelanggan, memilih pemasok terbaik, dan menjalin relasi
dengan mitra bisnis yang dinilai paling cocok
Menekan
biaya menyusun, memproses, mendistribusikan, menyimpan, dan mengakses informasi
berbasis kertas
Memungkinkan
perusahaan mewujudkan bisnis yang sangat terspesialisasi.
Menekan
biaya persediaan dan overhead dengan cara memfasilitasi manajemen rantai nilai
bertipe “pull” yang prosesnya berawal dari pesanan pelanggan dan menggunakan
pemanufakturan just-in-time
Menekan
waktu antara pembayaran dan penerimaan produk/jasa
Meningkatkan
produktivitas karyawan melalui rekayasa ulang proses bisnis
Menekan
biaya telekomunikasi
2.
Bagi
Konsumen
Memungkinkan
konsumen berbelanja atau melakukan transaksi lainnya setiap saat (24 jam
Memberikan pilihan produk dan pemasok yang lebih banyak kepada pelanggan
Memungkinkan konsumen dalam mendapatkan produk dan jasa yang lebih murah, karena konsumen bisa berbelanja di banyak tempat dan melakukan perbandingan secara cepat
Produk yang terdigitalisasi, e-business memungkinkan pengiriman produk secara cepat dan real-time
Memungkinkan pelanggan berinteraksi dengan pelanggan lainnya dalam electronic communities dan saling bertukar gagasan dan pengalaman Memungkinkan pelanggan berpartisipasi dalam lelang virtual
Memberikan pilihan produk dan pemasok yang lebih banyak kepada pelanggan
Memungkinkan konsumen dalam mendapatkan produk dan jasa yang lebih murah, karena konsumen bisa berbelanja di banyak tempat dan melakukan perbandingan secara cepat
Produk yang terdigitalisasi, e-business memungkinkan pengiriman produk secara cepat dan real-time
Memungkinkan pelanggan berinteraksi dengan pelanggan lainnya dalam electronic communities dan saling bertukar gagasan dan pengalaman Memungkinkan pelanggan berpartisipasi dalam lelang virtual
3.
Bagi
Masyarakat luas
Memungkinkan
lebih banyak orang bekerja di rumah Memungkinkan beberapa jenis barang
dijual dengan harga murah
F.
Kelemahan
Dan Kendala E-ecommerce
Menurut
survey yang dilakukan oleh CommerceNet http://www.commerce.net/ para pembeli /
pembelanja belum menaruh kepercayaan kepada e-commerce, mereka tidak dapat
menemukan apa yang mereka cari di e-commerce, belum ada cara yang mudah dan
sederhana untuk membayar. Di samping itu, surfing di e-commerce belum lancar
betul.
Pelanggan
e-commerce masih takut ada pencuri kartu kredit, rahasia informasi personal
mereka menjadi terbuka, dan kinerja jaringan yang kurang baik. Umumnya pembeli
masih belum yakin bahwa akan menguntungkan dengan menyambung ke Internet,
mencari situs shopping, menunggu download gambar, mencoba mengerti bagaimana
cara memesan sesuatu, dan kemudian harus takut apakah nomor kartu kredit mereka
di ambil oleh hacker.
Tampaknya
untuk meyakinkan pelanggan ini, e-merchant harus melakukan banyak proses
pemandaian pelanggan. Walaupun demikian Gail Grant, kepala lembaga penelitian
di
CommerceNet
http://www.commerce.net/ meramalkan sebagian besar pembeli akan berhasil
mengatasi penghalang tersebut setelah beberapa tahun mendatang.
Grant
mengatakan jika saja pada halaman Web dapat dibuat label yang memberikan
informasi tentang produk dan harganya, akan sangat memudahkan untuk search
engine menemukan sebuah produk secara online. Hal tersebut belum terjadi memang
karena sebagian besar merchant ingin agar orang menemukan hanya produk mereka
tapi bukan kompetitor-nya apalagi jika ternyata harga yang diberikan kompetitor
lebih murah.
Untuk sistem
bisnis-ke-bisnis, isu yang ada memang tidak sepelik di atas, akan tetapi tetap
ada isu-isu serius. Seperti para pengusaha belum punya model yang baik
bagaimana cara mensetup situs e-commerce mereka, mereka mengalami kesulitan
untuk melakukan sharing antara informasi yang diperoleh online dengan aplikasi
bisnis lainnya. Masalah yang barangkali menjadi kendala utama adalah ide untuk
sharing informasi bisnis kepada pelanggan dan supplier – hal ini merupakan
strategi utama dalam sistem e-commerce bisnis ke bisnis.
Kunci utama
untuk memecahkan masalah adalah merchant harus menghentikan pemikiran bahwa
dengan cara menopangkan diri pada Java applets maka semua masalah akan solved,
padahal kenyataannya adalah sebetulnya merchant harus me-restrukturisasi
operasi mereka untuk mengambil keuntungan maksimal dari e-commerce. Grant
mengatakan, “E-commerce is just like any automation – it amplifies problems
with their operation they already had.”
G.
Hubungan
Hukum Pelaku E-Commerce
Dalam bidang
hukum misalnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang
mengakomodasi perkembangan e-commerce. Padahal pranata hukum merupakan salah
satu ornamen utama dalam bisnis. Dengan tiadanya regulasi khusus yang mengatur
mengatur perjanjian virtual, maka secara otomatis perjanjian-perjanjian di
internet tersebut akan diatur oleh hukum perjanjian non elektronik yang
berlaku.
Hukum
perjanjian Indonesia menganut asas kebebasan berkontrak berdasarkan pasal 1338
KUHPerd. Asas ini memberi kebebasan kepada para pihak yang sepakat untuk
membentuk suatu perjanjian untuk menentukan sendiri bentuk serta isi suatu
perjanjian. Dengan demikian para pihak yang membuat perjanjian dapat mengatur
sendiri hubungan hukum diantara mereka.
Sebagaimana dalam perdagangan konvensional, e-commerce menimbulkan perikatan antara para pihak untuk memberikan suatu prestasi. Implikasi dari perikatan itu adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak yang terlibat.
Sebagaimana dalam perdagangan konvensional, e-commerce menimbulkan perikatan antara para pihak untuk memberikan suatu prestasi. Implikasi dari perikatan itu adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak yang terlibat.
Didalam
hukum perikatan Indonesia dikenal apa yang disebut ketentuan hukum pelengkap.
Ketentuan tersebut tersedia untuk dipergunakan oleh para pihak yang membuat
perjanjian apabila ternyata perjanjian yang dibuat mengenai sesuatu hal
ternyata kurang lengkap atau belum mengatur sesutu hal. Ketentuan hukum
pelengkap itu terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan khusus untuk jenis
perjanjian tertentu.
Jual-beli
merupakan salah satu jenis perjanjian yang diatur dalam KUHPerd, sedangkan e-
commerce
pada dasarnya merupakan model transaksi jual-beli modern yang mengimplikasikan
inovasi teknologi seperti internet sebagai media transaksi. Dengan demikian
selama tidak diperjanjikan lain, maka ketentuan umum tentang perikatan dan
perjanjian jual-beli yang diatur dalam Buku III KUHPerd berlaku sebagai dasar
hukum aktifitas e-commerce di Indonesia. Jika dalam pelaksanaan transaksi e-
commerce tersebut timbul sengketa, maka para pihak dapat mencari
penyelesaiannya dalam ketentuan tersebut.
Akan tetapi
permasalahannya tidaklah sesederhana itu. E-commerce merupakan model perjanjian
jual- beli dengan karakteristik dan aksentuasi yang berbeda dengan model
transaksi jual-beli konvensional, apalagi dengan daya jangkau yang tidak hanya
lokal tapi juga bersifat global. Adaptasi secara langsung ketentuan jual-beli
konvensional akan kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteks e-commerce. Oleh
karena itu perlu analisis apakah ketentuan hukum yang ada dalam KUHPerd dan
KUHD sudah cukup relevan dan akomodatif dengan hakekat e-commerce atau perlu
regulasi khusus yang mengatur tentang e-commerce.
Beberapa
permasalahan hukum yang muncul dalam bidang hukum dalam aktivitas e-commerce,
antara lain:
1.
Otentikasi
subyek hukum yang membuat transaksi melalui internet
2.
Saat
perjanjian berlaku dan memiliki kekuatan mengikat secara hukum
3.
Obyek
transaksi yang diperjualbelikan
4.
Mekanisme
peralihan hak
5.
Hubungan
hukum dan pertanggungjawaban para pihak yang terlibat dalam transaksi baik
penjual, pembeli, maupun para pendukung seperti perbankan, internet service
provider (ISP), dan lain-lain
6.
Llegalitas
dokumen catatan elektronik serta tanda tangan digital sebagai alat bukti
7.
Mekanisme
penyelesaian sengketa
8.
Pilihan
hukum dan forum peradilan yang berwenang dalam penyelesaian sengketa.
Praktisi
teknologi informasi (TI) Roy Suryo pernah menyebutkan sejumlah warnet (warung
internet) di Yogyakarta menyediakan sejumlah nomor kartu kredit yang dapat
dipergunakan para pelanggannya untuk berbelanja di toko maya tersebut.
Sementara itu, Wakil Ketua Kompartemen Telematika Kadin, Romzy Alkateri, pernah
mengungkapkan pengalamannya. Ia pernah ditagih beberapa kali atas suatu
transaksi jasa hosting yang dilakukannya dengan sebuah penyedia web hosting di
luar negeri. Padahal, ia mengaku sudah membayar jasa hosting tersebut dengan
menggunakan kartu kredit. Lebih jauh lagi, ia pun beberapa kali meminta pihak
issuer untuk tidak melakukan pembayaran tersebut karena merasa tidak melakukan
transaksi jasa hosting lebih dari satu kali.
Dari
berbagai kasus penipuan kartu kredit seperti di atas, tentunya selain pihak
card holder, pihak merchant juga akan dirugikan. Apabila card holder menyangkal
telah melakukan transaksi menggunakan charge card/credit card melalui internet,
maka pihak issuer tidak akan melakukan pembayaran, baik kepada merchant ataupun
pihak jasa payment services. Di Amerika, biasanya untuk sejumlah nilai
transaksi tertentu, kerugian tersebut ditanggung secara bersama oleh merchant
dan pihak jasa payment services.
Pengembangan aplikasi e-commerce bagi sebuah
perusahaan / lembaga merupakan proses yang cukup kompleks. Melibatkan beberapa
organisasi / situs dalam penanganan sekuriti dan otorisasi.
Perangkat lunak aplikasi e-commerce dalam dunia bisnis dapat mendukung pemotongan rantai distribusi sehingga konsumen dapat memperoleh suatu produk dengan harga yang lebih murah. Jenis antarmuka web dipilih dengan pertimbangan fleksibilitas implementasi perangkat lunak ini yang dapat dilakukan di jaringan intranet maupun internet, kemudahan untuk deployment, serta kemampuan cross platform.
Perangkat lunak aplikasi e-commerce dalam dunia bisnis dapat mendukung pemotongan rantai distribusi sehingga konsumen dapat memperoleh suatu produk dengan harga yang lebih murah. Jenis antarmuka web dipilih dengan pertimbangan fleksibilitas implementasi perangkat lunak ini yang dapat dilakukan di jaringan intranet maupun internet, kemudahan untuk deployment, serta kemampuan cross platform.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar